Nyanyian Kehidupan Michael

Tujuh tahun sudah pernikahan Karen dan Lius berjalan dengan dipercayai satu keturunan. Karen termasuk dalam golongan perempuan yang sulit mendapatkan anak dikarenakan faktor genetik. Harus menunggu dua tahun untuk adanya Michael. Michael yang sejak lahir secara kasat mata tampak sempurna namun tak diduga darah yang mengalir dalam tubuhnya merupakan darah pengidap HIV, peristiwa kecelakaan di depan rumahnya sewaktu ia berumur 3 tahun membuatnya terluka parah dan membutuhkan banyak darah. Tanpa sadar Michael yang sedang bermain sepeda di depan rumah kini telah terbaring di kamar operasi.

Transfusi darah pun dilakukan karen dan Lius, namun apadaya darah mereka tidak mencukupi, persediaan darah yang cocok untuknya di rumah sakit pun kosong. Patut bersyukurlah mereka sewaktu dewa penolong datang untuk mendonorkan darahnya. Namun entah ini semua kesalahan siapa, dua tahun kemudian Michael divonis mengidap HIV oleh dr. Sound, detik itu pula terpecahlah tangisan Karen dalam peluk Lius. Dengan suara lirih bibir mungil Michael pun bertanya “Ayah, kok ibu menangis?” Sontak Lius menciun kening Michael yang berada dalam peluk Karen yang masih terisak.

Apapun alasannya dan bagaimanapun caranya Karen dan Lius akan tetap mencoba menjelaskan pada Michael apa yang terjadi pada dirinya.

Semakin haripun Michael tumbuh menjadi anak yang mandiri, kritis serta tegar. Diusianya yang beranjak 6 tahun Karen dan Lius berhasil menjelaskan apa yang terjdi pada anak sulungnya sejak usia lima tahun lalu. Berbagai carapun dilakukan untuk kesembuhan Michael, namun untuk saat ini Tuhan masih berkata lain Michael belum dapat disembuhkan namun setidaknya ia masih dapat bertahan untuk beberapa tahun dan HIV yang di idapnya hanya kemungkinan kecil saja dapat menular karena penyakitnya bukan bawaan lahir atau faktor genetik, tapi ini hanya merupakan kesalahan mendapatkan donor darah, yang ia dapat dari dewa penolong tiga tahun lalu.

Seiring berjalannya waktu, keluarga kecil ini mendapatkan hadiah indah dari Tuhan, Karen diketahui tengah mengandung dua bulan anak keduanya.

Pada malam harinya Lius bergegas mendatangi kamar Michael dengan tujuan memberikan kabar bahagia itu. Diketuklah pintu kamar Michael seraya Lius berkata “Nak, sudah tidurkah kau?” dengan lantangnya sang calon kakak ini berkata “Belum yah, masuklah.” Masuk dan duduklah Lius di pinggir ranjang berbentuk mobil Michael, sambil mengusap kepala putranya, ia berkata “Nak , ayah punya kado indah untukmu, tujuh bulan yang akan datang kelak kau akan menjadi kakak” Hadiah indah inipun turut dirasakan Michael, baginya ini merupakan kado terindah dari Tuhan di malam ulang tahunnya.

Lius mendapati raut wajah terkejut dari putranya. Sekejap Michael berlari menuju kamar Karen, sampai disana ia hanya mencium kedua pipi dan memeluk hangat sang ibu sambil bekata “Terimakasih ibuku sayang”. Lius tersenyum mendapati putranya bahagia sebahagia itu. Karen pun menyambut senyum Lius. Betapa bahagianya mereka dapat memberikan apa yang Michael minta sejak tujuh tahun lalu.

Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Pukul 21.37 menit Karen terbangun dari tidurnya sambil merintih kesakitan, segera dibangunkannya Lius olehnya. “Lius lekas bawa aku ke rumah sakit, aku tidak kuat, mungkin ini sudah waktunya.” Bergegaslah keluarga kecil ini menuju garasi. Mobil Fortuner hitampun melesat cepat namun tetap tampak hati-hati. Namun selama diperjalanan menuju Rumah Sakit Michael tampak murung, tak ada lagi raut bahagia akan menyambut kedatangan sang adik seperti kemarin malam. Karen dan Lius pun merasakan kejanggalan itu, namun mereka berpikir itu hanya ungkapan perasaan Michael yang mungkin akan takut kasih sayang dari orang tuanya berkurang dan perlahan sirna karena kehadiran sang adik.

Hari penantian pun akan segera berakhir, kini Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan.
Setibanya di rumah sakit suster segera membawa Karen menuju kamar bersalin dengan brangkart. Ajaib memang dalam setengah perjalanan menuju rumah sakit Karen tidak lagi mereasakan sakit luar biasa seperti awal tadi.

Tangan Michael yang kini tak mungil lagi perlahan menyentuh perut Karen, pada saat itu pula Lius tersenyum tenang, pikirnya rasa takut akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya yang di derita putranya perlahan sirna. Namun sungguh tak disangka masih dalam keadaan memegang perut buncit Karen, Michael berkata sangat pelan “setelah kau lahir, gantikan aku untuk ayah dan ibu.”

Tak ada yang tak terkejut saat itu, Lius langsung menarik tangan Michael dari perut Karen, sambil memeluk Michael Lius bertanya “Nak, apa maksutmu?”, “Kau akan tetap menjadi kakak dan kau akan merasakan bagaimana indahnya memiliki seorang adik.” “Apa tetap indah rasanya bila darah kotor ini tetap mengalir di tubuhku ayah?.” Lius langsung memeluk erat Michael kembali. Karen berlalu masuk kamar bersalin dengan isak tangis yang mendera masih sempat ia berkata pada anaknya “Kami janji kamu pasti sembuh anakku.”

Agak alot proses persalinan Karen saat ini.

Selang beberapa jam kemudian proses itu pun berakhir, raut penasaran terpancar dari keduanya. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius pada bayi kedua Karen. Seorang bayi putri yang terlahir cantik, namun sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter harus merawatnya dengan intensif. Dengan sedih dokter berterus terang “Nyonya Karen bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.”

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan untuk putrinya jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus. “Ibu, … aku mau nyanyi buat adik kecilku!” “Ibu, … aku pengen nyanyi!”. Karen yang terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya mengabaikan ingin Michael. Sekali lagi Michael meminta “Ibu, … aku kepengen nyanyi!”. Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen hanya menganggap rengekan Michael hanya rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Usaha Michael pun berbuah hasil, Karen mau mendengarkan Michael. “Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!” Ujar Karen. Mereka dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. “Anak kecil dilarang masuk!”. Tegas suster. Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya “Suster, sebelum menyanyi untuk adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!” Tepis Karen. Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.” Tegas suster lagi.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya, lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …”. Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan “Terus, … terus Michael!, teruskan sayang! …” Bisik Karen “The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands …”. Lanjut Michael. Dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur “I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same …” Sambut Michael lagi. Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.

Adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai, lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen serta Lius melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

“Kita panggil dia Vinnes”. Cetus Lius.

Bagi Vinnes, kehadiran Michael berarti untuk hidup dan matinya. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Keadaan mencekam pun berangsur beralih, dan acara penguburan untuk acara penguburan yang rumah sakit telah siapkan untuk Vinnes pun dibatalkan begitu saja. Namun entah apa rencana Tuhan, sekejap Ia berkehendak lain lagi. Suasana memcekam pun terasa lagi.

Michael tersungkur setelah berucap “How much I love you” untuk Vinnes.

Hanya sebentar saja Michael berada dalam tangan dingin sang dokter, sekejap kemudian bibir sang dokter pun bergetar lirih kemudian berkata “Ikhlaskan ia tenang disana.”

Tangis Karen dan Lius pun pecah seketika, begitupun dengan Vinnes yang sedang terlepap tidur, sontak ia terbangun dan menagis seraya ia dapat merasakan hal itu.

Acara penguburan yang tadi sempat dibatalkan kini diadakan kembali, namun ini untuk Michael.

Ditatapnya tubuh kaku michael. Karen memaksa bangun hanya untuk mencium kening Michael. Lius berkata “How much I love you, itu kata terakhirmu bukan untuk Vinnes tapi untuk kami juga.

Vinnes pun ikut menyaksikan semua itu. Dalam gendong suster ia menangis tanpa suara, hanya air mata yang mengalir adanya. Jika ia dapat, ia akan berkata “You are my everything”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: